FISIP UI: Program Makan Bergizi Gratis, Harapan Baru Atasi Kerawanan Pangan

4 days ago 8
ARTICLE AD BOX

JAKARTA - Indonesia tengah berjuang keras memerangi bayang-bayang kerawanan pangan dan masalah gizi yang masih menghantui. Menyadari urgensi ini, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional (BGN), yang salah satu program unggulannya adalah Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program MBG ini dirancang untuk menyentuh langsung kelompok masyarakat yang paling rentan, mulai dari siswa-siswi yang sedang menempuh pendidikan, balita yang merupakan generasi penerus bangsa, ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan asupan ekstra, hingga para lansia yang perlu perhatian khusus. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi, inisiatif ini juga digadang-gadang akan menjadi motor penggerak dalam upaya pengentasan kemiskinan yang kian mendesak.

Di tengah geliat program tersebut, Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) baru-baru ini memaparkan hasil riset mendalam bertajuk 'Kajian MBG: Dampak terhadap Pendapatan dan Pengeluaran Keluarga'. Paparan ini disampaikan dalam sebuah Seminar Riset yang diselenggarakan sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis FISIP UI ke-58, pada Kamis (5/3/2026) di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI, Depok.

Dipimpin oleh Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Prof. Fentiny Nugroho, tim peneliti yang terdiri dari Dr. Annisah, M.Kesos, Dr. Anna Sakreti Nawangsari, M.Sos, Dr. Arif Wibowo, S.Sos., S.Hum., M.Hum, serta Shinta Tris Irawati, M.Kesos, telah bekerja keras mengurai berbagai aspek dari program ini.

Menggunakan pendekatan kualitatif yang kaya, riset ini menggali informasi melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), observasi langsung, hingga studi dokumen. Penelitian ini digelar di tiga wilayah strategis yang menjadi sampel, yaitu Jakarta Timur, Depok, dan Tangerang Selatan, guna menangkap gambaran yang komprehensif.

Prof. Fentiny menjelaskan bahwa fokus utama penelitian ini adalah mengamati secara kritis bagaimana program MBG memengaruhi dinamika ekonomi di tingkat rumah tangga. Ini mencakup perubahan yang terjadi pada struktur pendapatan hingga pola pengeluaran keluarga.

“Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu menggerakkan dana hingga Rp10–12 miliar per tahun. Sebanyak 85 persen anggaran digunakan untuk membeli bahan baku dari petani lokal. Setiap SPPG mempekerjakan sekitar 50 orang serta melibatkan puluhan petani dan pemasok, ” ujar Prof. Fentiny.

Ia menambahkan, para relawan yang kini terlibat aktif dalam kegiatan SPPG merasakan dampak positif yang signifikan. Mereka melaporkan adanya penghasilan harian yang relatif stabil, berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp125 ribu per orang. Pendapatan ini menjadi angin segar, terutama bagi mereka yang sebelumnya berjuang tanpa sumber penghasilan tetap.

“Mereka menyampaikan rasa senang karena kini memiliki penghasilan harian yang relatif stabil, berkisar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu, ” jelasnya.

Lebih lanjut, temuan menarik lainnya dari penelitian ini adalah adanya penurunan pengeluaran rumah tangga bagi keluarga penerima manfaat program MBG, khususnya pada pos pengeluaran pangan. Dampak ini terasa paling nyata bagi keluarga yang berada dalam kategori miskin dan rentan miskin, meringankan beban finansial mereka.

Meski begitu, Prof. Fentiny juga mencatat adanya masukan dari sebagian orang tua yang belum merasakan perubahan signifikan dalam pengeluaran mereka, karena kebiasaan memasak di rumah tetap berjalan seperti biasa.

Prof. Fentiny memaparkan bahwa dalam jangka pendek, program MBG memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama dalam memastikan akses terhadap makanan bergizi. Tak hanya itu, program ini juga memberikan multiplayer effect pada perekonomian melalui penyerapan tenaga kerja di SPPG dan UMKM mitra, peningkatan pendapatan bagi para relawan dan pekerja UMKM, serta pengurangan beban pengeluaran keluarga.

Menilik ke depan, program ini dinilai memiliki prospek kuat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan. Asupan nutrisi yang memadai sejak dini diyakini akan menjadi fondasi kokoh bagi tumbuh kembang anak yang optimal, mencakup perkembangan fisik, kecerdasan kognitif, kesehatan yang prima, hingga partisipasi aktif dalam dunia pendidikan.

“Dengan nutrisi yang baik, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga di masa depan mampu berkontribusi positif terhadap pembangunan dan membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga, ” ujar Prof. Fentiny.

Namun, riset ini tidak berhenti pada temuan positif semata. Sejumlah rekomendasi strategis turut disajikan untuk memperkuat implementasi program MBG ke depannya. Di antaranya adalah pentingnya melakukan asesmen kebutuhan spesifik terkait jenis menu bagi para penerima manfaat, memberikan ruang bagi aspirasi anak dalam proses penentuan menu, serta memprioritaskan wilayah-wilayah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi sebagai sasaran utama program.

Selain itu, peningkatan kualitas dan kehigienisan sarana serta prasarana makan juga menjadi sorotan penting. Penelitian ini juga menyarankan agar kantin sekolah yang terdampak oleh program MBG dapat didukung untuk bertransformasi menjadi unit usaha yang berperan sebagai pemasok bahan baku bagi SPPG, menciptakan sinergi yang lebih luas.

Dengan segala temuan berharga dan rekomendasi yang ditawarkan, program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu membuka jalan bagi pemenuhan gizi yang merata, sekaligus menjadi katalisator penguatan ekonomi lokal dan akselerasi pengurangan kemiskinan yang berkelanjutan bagi Indonesia. (PERS) 

Read Entire Article
Penelitian | | | |